Zaman Kanker versus Filosofi Beras Hitam

manfaat beras hitam

manfaat beras hitam

Makanan Untuk Diet – Hitam sering disebut sebagai lawan dari warna putih. Mungkin seperti itu juga dengan beras hitam. Sama-sama beras, namun sifatnya bertolak belakang. Menggelitik saya untuk menarik dari sebutir beras ini satu pandangan tentang zaman kita hari ini.

Selama ribuan bahkan mungkin jutaan tahun, manusia telah hidup di bumi. Hidup sebagai satu bagian yang selaras dengan bagian lainnya. Tetap hidup nyaman sejahtera, menghasilkan beragam kearifan, kebijaksaan dan pengetahuan yang luar biasa.

Makanan Untuk Diet

Makanan Untuk Diet

Saya sendiri lebih suka memandang bumi ini sebagai sebuah makhluk hidup. Untuk sebuah benda mati, bumi terlalu canggih dalam mengatur keseimbangan di dalamnya. Ada sistem pengaturan suhu melalui jaringan angin global dan jaringan arus laut antar samudera. Ada sistem stabilitas daratan dengan jaringan rantai pasak pegunungan. Juga sistem rantai makanan yang secara sempurna dan efisien mengolah energi cahaya matahari untuk mencukupi seluruh kehidupan di dalamnya.

Sekitar seabad terakhir hidup manusia di bumi ini, yang sering disebut zaman modern, kita mengalami zaman yang betul-betul berbeda dari ribuan tahun sebelumnya. Sampai-sampai muncul istilah back to nature, lalu ada juga hidup dekat dengan alam. Saking jauhnya kehidupan modern ini dari kehidupan yang alami. Dan penyakit pun ikut-ikutan modern. Satu yang paling ngetren hari ini adalah Kanker.

Kanker, menurut definisi Wikipedia adalah sel yang tumbuh dengan cepat tanpa terkendali. Kanker, seperti kita semua sudah tahu, adalah penyakit yang begitu ngetren akhir-akhir ini. Apa saja bisa kena kanker. Mulai dari usus besar, lambung, prostat, payudara, rahim, otak, mulut, paru-paru. Padahal seabad lalu, penyakit model begini masih sangat langka, kalau tidak bisa dikatakan belum ada.

Sanderm Beras Hitam

Sanderm Beras Hitam

Terdorong untuk memandang, sebagai bagian dari makhluk hidup bernama bumi, agaknya manusia lebih mirip sel kanker. Berkembang pesatnya tanpa terkendali, memakan apapun yang ada disekitarnya dan meninggalkan jejak kotor beracun. Hidup berkelompok membentuk massa yang sangat berbeda dari selain kelompoknya.

Mungkin istilah perkotaan lebih familiar bagi kita untuk koloni mirip benjolan kanker bagi bumi. Sampai-sampai Ibu Pertiwi ini demam tinggi yang sering disebut-sebut dengan istilah modern global warming. Es di kutub dan puncak gunung mencair dan mengalir bak tangisannya.

Entah apakah seringnya gempa dan gunung meletus akhir-akhir ini adalah bagian dari gejala sakit. Atau jangan-jangan bumi sedang mengaktifkan sel darah putih nya untuk membereskan penyakit kanker global ini. Jika benar begitu maka ini pertanda buruk bagi kelangsungan hidup manusia. Atau setidaknya sebagian besar darinya.
Padahal sebetulnya solusinya sangat sederhana. Namun karena abstraknya sehingga seolah mustahil. Hanya perlu kesadaran, dan memang kesadaran itu sesuatu yang tidak dapat diukur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *