Tahukah Anda, Apakah Beras Anda Hidup atau Mati?

Sepintas beras hitam memang terlihat diam, tapi sebenarnya masih hidup. Ya, memang tidak bergerak, namanya juga tumbuhan, hehe. Beras yang hidup masih bisa tumbuh menjadi satu tanaman padi, dalam kondisi tertentu. Tapi kan, setelah dimasak, semuanya akan mati juga, lalu kenapa harus beras hidup?

Lebih enak manakah, makanan segar atau yang sudah berhari-hari mati? Yang segar jelas lebih enak, dan bergizi kan. Beras yang mati sudah kehilangan bagian-bagian terpentingnya, sehingga sudah tak menjalankan aktifitas kehidupan lagi.  Bagian-bagian penting yang saya maksud adalah mata beras dan kulit arinya. Mata beras adalah embrio alias padi kecil yang merupakan inti dari beras. Sedangkan kulit ari adalah pelindung yang mengandung gizi tinggi dan bahan-bahan penting untuk pertumbuhan si padi nantinya.

Beras mati, sudah kehilangan semuanya. Dan hanya mengandung pati putih miskin gizi, sehingga disebut beras putih sesuai warnanya. Jadi semua beras, mau warna coklat, merah, hitam, ungu, atau oranye, bisa dijadikan beras putih. Tinggal disosoh alias dibuang kulit arinya.

Black Rice Hatsuga

Black Rice Hatsuga

Beras utuh alias beras hidup memang tidak seawet beras yang berwarna. Karena kulit ari mengandung gizi yang tinggi sehingga relatif lebih cepat rusak. Kadar minyak baiknya yang tinggi sering menjadi tengik setelah beberapa bulan disimpan. Maka beras coklat dulu dipandang sebagai beras yang kotor dan kurang baik. Apalagi kalau tengik ya? Hehe

Orang dulu mengira ketengikan beras dapat diatasi dengan membuang kulit ari dan mata berasnya. Kulit ari dan mata beras dianggap pengotor dan mempercepat kerusakan. Tak heran ya, kalau beras putih lalu dianggap lebih baik. Bersih, lebih enak, dan awet. Beras putih yang kering dapat disimpan bertahun-tahun tanpa rusak. Jelas awet, kan cuma tersisa pati kering tanpa sel-sel hidup.

Tapi baikkah membuang kulit ari dan mata beras? Tanpa nutrisi dari kulit ari dan mata beras, pati yang baik berubah menjadi pemicu diabetes. Karbohidrat pati menjadi terurai lebih cepat dalam pencernaan dan tubuh kita tanpa adanya serat, enzim dan vitamin dari kulit ari dan mata beras. Akibatnya gula darah naik drastis setelah makan beras putih. Dan ini tak baik bagi pankreas. Setelah bertahun-tahun, pankreas akan kelelahan sehingga produksi insulin menurun. Terjadilah diabetes.

Itu baru dari sisi gula darah. Belum lagi cerita tentang usus besar yang menderita karena kurang serat. Atau pembuluh darah yang menyempit karena kekurangan lemak baik. Apalagi kalau berasnya hasil rekayasa genetik, atau ada residu pestisidanya. Wauw, pantas saja tidak ada tertulis di prasasti atau catatan sejarah kalau Raja- Raja zaman dulu ada yang wafat karena sakit jantung, diabetes atau kanker ya.

Pilih beras awet, atau awet muda?

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>