Ngobrol Tentang Perizinan Usaha Beras Hitam dengan Juragan Gula Aren

Setiap kali kulakan gula aren adalah waktunya mentoring. Supplier saya, seorang juragan gula aren, adalah veteran di dunia usaha. Berbagai macam tips adalah bonus yang sangat berharga disamping bonus potongan harga, hehe. Dan kali ini, saya rasa cukup penting, walaupun mungkin agak kurang menyenangkan dibaca oleh kaum birokrat. Biarlah, sebagai bahan introspeksi kita bersama.

Tentang perizinan usaha. Aspek legalitas usaha memang penting bagi kelangsungan sebuah usaha. Memiliki badan hukum berarti sah di mata pemerintah memiliki kekuatan hukum dan dapat bertindak secara hukum. Menarik? Nanti dulu. Lihat dulu konsekuensi dan realismenya.

Memang beberapa karakter konsumen, ada yang kritis. Mereka menanyakan tentang legalitas, status perusahaan, perizinan, sertifikasi, dan sebagainya. Menurut saya tidak ada salahnya sih. Itu adalah kritik yang membangun. Cepat atau lambat, sebuah produk harus memiliki perizinan dan sertifikasi. Perlambang jaminan kualitas bagi konsumen.

Namun dari sisi pengusaha, kenyataan tersebut dapat sangat terbalik. Perizinan paling dasar semacam CV adalah tantangan yang cukup menarik, terutama bagi pemula dan yang bermodal minim. Padahal keberadaan CV tidak memastikan kualitas produk yang lebih baik. Sekelas PT pun tidak sedikit yang menjual produk tidak sehat. Membuat CV berarti mendaftarkan NPWP. Pendapatan belum seberapa, tapi sudah diuber-uber petugas pajak. Bukan mengatakan bahwa tidak penting membayar pajak. Namun mana yang harus diprioritaskan.Bukankah pendapatan yang belum seberapa itu lebih baik dikumpulkan untuk memberi barang modal sehingga produknya bisa lebih berkualitas, lebih memenuhi syarat pasar, dan lainnya.

Yang cukup mengusik nurani adalah, kenyataan bahwa pajak masih merupakan lahan basah bagi tikus-tikus berdasi. Ada ucapan bahwa cara kerja petugas pajak adalah dengan sistem komisi. Artinya diberi target tertentu, jika melebihi target, maka itu adalah jatah kantongnya sendiri. Pasti masih segar di ingatan tentang kasus petugas pajak superkaya? Memang sih pajak itu untuk kepentingan kita juga. Untuk membantu kaum fakir dan miskin. Seperti diamanatkan UUD bahwa fakir miskin adalah tanggung jawab negara. Tapi bagaimana kenyataannya?

Hehe, pertanyaan klise semua. Pengusaha kok masih begitu-begitu pertanyaannya. Ora ilok, hehe. Mungkin lebih baik kalau kita salurkan langsung? Prinsipnya, di dalam harta kita ada hak orang lain, jadi harus kita berikan. Dibalik pemberian itu, sepertinya ada dampak langsung terhadap bisnis. Orderan yang tadinya sepi, mendadak banjir. Sampai akhirnya muncul pemikiran kotor bahwa memberi itu boleh pamrih. Bahkan sampai menuduh bahwa Tuhan juga pamrih. Kita diberi surga hanya kalau kita taaat dan beribadah. Tapi ketika merenung seperti itu, Pak Indra mendapat celetukan dari seorang anak muda. Kita memberi bukan karena pamrih. Tapi sebagai rasa syukur karena telah diberi rezeki. Benar juga! Kenapa tidak terpikir seperti itu dari dulu? Bukankah Tuhan juga selalu memberi rezeki, tak peduli kita memberi atau pelit medit. Namun rezeki Tuhan tidak jatuh dari langit. Selalu melalui tangan-tangan manusia. Jika kita mau menjadi saluran rezeki Tuhan, bukan tidak mungkin saluran rezeki kita diperbesar. Masuk akal.

Langsung deh cerita rejeki nomplok. Tentang orderan yang mendadak ramai setelah

Andaikan saja pajak benar-benar tersalurkan dengan baik, hehe. Tapi bukan alasan untuk tidak memproses legalitas. Ini masalah kecil. Pajak adalah masalah kecil. Niatkan saja memberi dengan ikhlas. Mengkayakan negara. Kita tidak akan miskin dengan memberi.

Saya jadi ingat kepengenan saya. Ngasih uang lembaran “merah” ke anak pengemis di pingiran jalan. Tapi pajak tetep bayar, dan sama sekali ga kekurangan karena semua itu. Hehe, Hari gini belum punya NPWP? Apa kata dunia? [Sochi]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>