Harga BBM Turun, Harga Beras Malah Naik. Bagaimana Harga Beras Hitam?


Harga BBM Turun, Harga Beras Malah Naik. Bagaimana Harga Beras Hitam?

Sebetulnya saya ini paling malas menanggapi segala yang berkaitan dengan pemerintah. Hehe. Dan tulisan inipun, sebetulnya saya mau mendongeng tentang “Fair Trade”.

Yap. Beras di warung depan tadi saya tanya, malah naik lagi menembus harga 10 ribu per liter. Bukan per kilogram. Mungkin per kilogram nya bisa 11-12 ribu ya. Menurut logika, harusnya harga BBM turun maka harga beras pun turun. Jadi apa sebetulnya yang terjadi?

Jalur pemasaran beras pada umumnya dari petani ke tengkulak desa, kemudian ke pengepul besar, lalu ke pedagang besar atau pasar induk, yang memasarkan ke pedagang grosiran, lalu diecerkan oleh pedagang kecil atau warung. Bisa lebih pendek, atau lebih panjang. Yang jelas, untuk menghidupi sekian banyak tangan, eh, manusia, perlu margin yang besar. Tapi masyarakat tidak mau beli kalau harganya mahal. Jadilah petani yang terus ditekan agar harga jualnya serendah mungkin.

Klise? Tapi ini bukan masalah yang terlalu besar. Jalur panjang sebetulnya tak masalah, jika semuanya berjalan dengan fair. Dengan adil dan manusiawi. Ini bukan akar masalahnya, hanya gejala yang nampak di permukaan. Lalu?

  1. Praktek Ijon

    Kasus yang lebih mengerikan terjadi pada cabe. Bukan cabe-cabean, ya. Ini kasusnya sudah memancing di air keruh. Memang betul petani kadang menaikkan harga karena panenan sedikit, tapi tidak sampai berlipat-lipat seperti yang terjadi di pasar. Praktek yang terjadi seringkali adalah ijon atau tebasan alias beli sebelum waktunya. Praktek berbahaya ini umum sekali dijalankan di pedesaan. Tidak hanya cabe dan padi, tapi juga komoditas lainnya seperti bawang, mangga, dan buah-buahan lainnya, juga ternak, sapi, kambing, dan seterusnya. Yang dibeli bukan berapa kilo gabah atau berapa kilo cabe, melainkan satu petak sawah ini dihargai sekian. Perkiraan saja. Gambling. Satu pohon mangga ini dihargai sekian. Satu bahu lahan cabe ini dihargai sekian. Satu sapi ini jeroannya dihargai sekian. Tidak jelas.

    Dulu ketika kami masih nyawah di dusun Sandrem, Indramayu, praktek ini disebut penduduk lokal dengan istilah tebasan. Akibatnya, petani tak pernah makan hasil sawah yang dia tanam sendiri. Karena setelah ditebas oleh tengkulak, maka dia sudah tak berhak lagi atas sawah itu. Sedikitpun. Untuk kebutuhan beras, harus beli ke warung. Berasnya di warung dari mana? Dari Vietnam? Thailand? Entahlah..

    Bagi yang Muslim, sejujurnya, ini masuk praktek riba’ karena barang yang diperjualbelikan tidak jelas jumlahnya. Ibarat membeli kucing dalam karung.

    Bahayanya? Ketika tengkulak salah menebak, misalnya hasil panen cabe ternyata jauh lebih kecil dari perkiraannya, maka dia harus naikkan harga jualnya supaya minimal balik modal. Atau petani terpaksa menjual murah hasil sawah padi nya sebelum panen karena kebutuhan mendesak, misalnya, hutang pupuk dan pestisida, anak sekolah, atau beli motor baru. Sehingga makin hari mereka makin miskin dan terbelit hutang ke tengkulak atau ke toko pupuk dan pestisida. Sampai tahap terbelit hutang inilah petani tak ubahnya seperti budak. Terpaksa bekerja demi menutup hutang yang berbunga dan semakin menggunung. Ini sudah banyak sekali korbannya. Silakan sesekali jalan-jalan ke pedesaan untuk ngobrol dengan petani, bukan hanya nyampah di tempat wisata alam tanpa jejak yang bermanfaat.

  2. Akarnya? Pertanian Industri

    Zaman dahulu kala, oh tidak, tidak terlalu jauh dari sekarang. Hanya beberapa dekade lalu, semua petani masih menggunakan cara pertanian yang alami. Pakai benih lokal, pupuk kandang, dan ramuan tanaman untuk mengendalikan hama. Mereka makan sendiri hasil panen sawahnya, dan masih sisa banyak untuk disimpan di lumbung. Tak ada uang tak masalah, hidup tetap berjalan normal. Semua makanan sehat, tinggal petik. Tak ada ketakutan makanan mengandung racun. Bahkan buang sampah sembarangan pun tak masalah, karena semua bungkus makanan dari daun, yang mudah terurai malah menjadi penyubur tanah.

    Tapi kini bertani menjadi amat rumit. Butuh modal untuk sewa traktor. Butuh uang untuk beli obat pembasmi rumput. Beli bibit unggul dulu. Harus bayarin pupuk dulu. Mesti siapkan pestisida dulu. Semua perlu duit duit dan duit. Saya tidak suka menyebut cara pertanian ini dengan istilah yang umum dipakai yaitu ‘pertanian konvensional’. Karena bagi saya istilah konvensional itu artinya ‘yang sudah biasa dan disepakati’. Padahal cara kimiawi ini baru seumur jagung jika dibandingkan dengan kearifan lokal yang tumbuh selaras dengan alam.

    Petani menanggung resiko yang paling besar. Juga mengeluarkan tenaga yang paling banyak. Petani mengeluarkan modal agar kita bisa makan. Tapi anehnya, justru mereka mendapat bagian keuntungan yang paling sedikit, secara finansial. Bahkan secara riil nya, seringkali petani tak pernah mencicipi tanaman hasil keringat mereka, walaupun sedikit. Adakah kepedulian dan cinta dalam sebutir nasi dari sawah yang dibudidayakan dengan kesadaran semacam itu? Sampai kapan petani akan terus dimiskinkan dan diperbudak? Tak ubahnya mesin produksi yang harus terus bekerja. Bahkan mesin pun perlu perawatan dan penggantian berkala.

Kita semua makan nasi. Dan hasil panen lainnya. Setiap hari. Tanpa putus. Menurut pikiran pendek saya, masalah sumber makanan adalah masalah yang sangat penting. Kita semua tahu kalau tak ada makanan maka tak hidup. Selama ada makanan, kita masih bisa hidup walaupun tak ada BBM, listrik, gas, internet, handphone, atau pulsa. Selama masih bisa makan, kita masih hidup walau siapapun jadi presiden, DPR atau apapun namanya. Selama masih bisa makan makanan yang sehat, kita masih bisa hidup walaupun tak ada jaminan kesehatan, kartu orang sehat, asuransi, atau apalah.

Kenapa perhatian kita teralihkan? Hal-hal yang tidak penting justru kita pikirkan setiap hari. Kita usahakan dengan sepenuh tenaga. Kenapa kita lupa dengan sesuatu yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, setiap hari, mungkin sehari 3 kali, mungkin lebih.

Lalu saya bisa apa? Saya di kota. Tak mengerti pertanian sedikitpun. Saya tak bisa membedakan mana yang ditanam dengan benar mana yang tidak.

Kita selalu punya pilihan. Kita memilih, pagi ini makan apa. Siang ini makan dimana. Beli sayur apa untuk dimasak besok. Kita hanya perlu sedikit kesadaran ketika membeli. Belilah yang lokal, karena akan memberi sedikit sambungan nafas bagi kehidupan petani yang sudah tersengal-sengal. Daripada beli beras dengan kode aneh-aneh atau nama yang dibuat-buat keren. Belilah beras lokal yang sudah mulai banyak penjualnya. Ada beras merah, beras hitam, Wedang Beras Hitam. Daripada beli olahan gandum atau terigu yang sudah pasti impor, coba biasakan makan yang produksi lokal. Ada kok mie dari jagung lokal, beras lokal. Gandum tidak panen banyak di Indonesia jadi tak ada yang menanam. Tempe ada yang bikin dari kedelai lokal. Atau dari kacang koro yang juga lokal. Juga tahu. Sayuran. Buah. Buah impor malah kemarin diberitakan mengandung bakteri mematikan. Mumpung musim rambutan, lebih murah, aman, enak dan bergizi daripada apel dari planet Klingon.

Jangan keblinger mengurangi nasi malah makan gandum. Kalau mau kurangi nasi, makanlah ubi lokal. Talas lokal. Minum Wedang Beras Hitam memang masih dari beras, tapi porsinya sangat sedikit dan cukup untuk ganti sarapan. Kalau 250 juta orang Indonesia sarapannya Wedang Beras Hitam saja, sawah padi hitam di Indonesia lebih dari cukup untuk memenuhinya.

Beras hitam yang lokal ini terbukti tahan menghadapi kenaikan BBM dan dollar. Harga berasnya tetap stabil di angka 30 ribu rupiah. Wedang Beras Hitam hanya naik sedikit itupun karena ada komponen kemasan yang pasti naik drastis karena BBM. Petani tetap makmur dan tanah air kita terhindar dari keracunan. Inilah perjuangan kita melawan penjajahan modern.

Apakah kita tutup mata tutup telinga tutup hati melihat sumber makanan kita sedang di ambang kejatuhan?

Pilihan ada di tangan kita.

 

Salam hijau,

Sochi