Antara Genmaicha, Wedang Beras Hitam dan Kebanggaan Diri.


Antara Genmaicha, Wedang Beras Hitam dan Kebanggaan Diri.

Dapatkah Anda bayangkan rasanya jika teh dicampur dengan beras hitam?

Mungkin mirip dengan Wedang Beras Hitam ya? Hehe

Sebuah legenda dari Jepang menceritakan tentang seorang budak dari Samurai ternama. Suatu hari ia dengan bodohnya tak sengaja menjatuhkan beras hitam, eh salah, maksudnya beras coklat ke dalam kuali berisi teh hijau yang sedang dimasak. Teh, sebagaimana tradisi Jepang, adalah sebuah seni dan ritual penting yang harus dihormati secara khidmat. Merasa ritualnya rusak oleh kebodohan si budak, Sang Samurai seketika menebas kepalanya dengan sambaran samurainya. Baru setelah terpisah kepala si budak dari badannya, Sang Samurai tergoda untuk mencoba teh rusak tadi. Ternyata rasanya sungguh berkesan. Samurai itu takjub dengan perubahan rasa yang terjadi. Maka sebagai penghormatan atas si budak tadi, dia menamai teh tersebut dengan "Genmaicha". Tidak hanya rasa yang unik dan enak, teh beras ternyata juga menyimpan berbagai macam khasiat serta kegunaan.

Kata Genmai dalam bahasa Jepang bermakna "beras" dan "cha" bermakna "teh". Sebenarnya ada beberapa versi legenda yang menceritakan awal mula penemuannya, namun tak satupun yang bisa dijadikan pegangan. Teh beras ternyata juga terkenal di negara-negara lain. Korea mengenal "Hyeonmi cha", yang merupakan seduhan beras sangrai. Jika ditambah teh hijau, maka mereka menyebutnya dengan "hyeonmi nokcha". Di Vietnam juga dikenal minuman yang sama dengan nama "nuoc gao luc".

Dalam tradisi Korea, Hyeonmi cha sering digunakan dalam pengobatan tradisional. Teh beraroma unik dan menyegarkan ini dipercaya dapat mengatasi kanker, beri-beri, sakit persendian, memperlancar peredaran darah, dan karena kandungan seratnya yang tinggi, dapat mencegah masalah pencernaan terutama sembelit.

Genmaicha, Hyeonmi cha dan Nuoc gao luc biasa dibuat dari beras coklat atau brown rice. Beras coklat diketahui mengandung banyak manfaat dari kulit arinya yang berwarna coklat tersebut. Namun kekayaan alam nusantara menyimpan berbagai varietas beras yang menakjubkan. Salah satunya beras hitam, yang sering disebut-sebut memiliki khasiat dahsyat. Sebagai beras khusus untuk kalangan raja dan tetua adat, tentunya beras ini telah lolos seleksi sebagai beras terbaik diantara ratusan jenis beras yang dikandung ibu pertiwi. Terbayang bagaimana jika teh dari beras coklat saja mempunyai khasiat yang demikian baik, apalagi jika dibuat dari beras legendaris, beras hitam.

Dengan kandungan pigmen warna yang lebih pekat, dapat diperkirakan warna teh yang dihasilkan oleh beras hitam. Genmaicha dan Hyeonmi cha berwarna bening kekuningan sampai kuning keemasan, maka sering ditambah teh hijau untuk menambah citarasa dan warnanya. Sedangkan beras hitam, ditambah teh apapun warnanya akan tetap hitam. Begitu pula dengan aromanya yang kuat, biasanya akan menimpa aroma teh yang cenderung lembut. Barangkali jenis teh tertentu yang beraroma kuat dapat menyatu dengan beras hitam, tak ada salahnya mencoba.

Bagi Anda yang pernah mencoba atau melihat wujud fisik beras dalam genmaicha, bentuknya seperti beras yang sudah dipanggang sampai ‘popping’ atau mengembang. Mirip jipang atau rengginang atau rice crispy. Secara umum prosesnya sesederhana menyangrai beras di atas api kecil sampai kering dan meletup (berbunyi ‘pop’) sebagian. Saat meletup, pati dalam beras menjadi matang sehingga wangi beras matang akan keluar dan teksturnya menjadi lebih ringan. Tetapi teknik menyangrai yang tepat diperlukan agar beras bias meletup matang dan wangi seperti ini. Terlalu panas maka beras akan gosong, sedangkan jika terlalu kecil apinya maka beras akan kering tanpa menjadi matang sehingga aroma wanginya kurang keluar.

Begitu pula halnya dengan memanggang beras hitam. Kami telah mencoba berbagai macam cara dan teknik untuk mendapatkan beras hitam yang cukup matang dan wangi, tetapi tanpa melalui proses pemanasan yang berlebihan. Proses yang berlebihan akan menyebabkan hilangnya nutrisi terlalu banyak, sehingga khasiatnya akan berkurang. Kehilangan nutrisi bagi kami adalah proses yang menyia-nyiakan anugerah alam, sehingga sangat kami hindari. Meskipun begitu, proses pemanasan tetap diperlukan untuk mengekstrak nutrisi dari ikatan kimia pada beras. Sehingga keseimbangan inilah yang harus dicari dan dipertahankan.

Memang genmaicha biasanya disajikan tanpa gula dan kalaupun manis maka akan menggunakan gula pasir yang cenderung netral manisnya sehingga tidak menutup aroma. Sedangkan wedang beras hitam menggunakan gula aren yang memiliki aroma khas, agak creamy. Dan juga pada genmaicha, beras panggang nya dibiarkan dalam kondisi utuh saat diseduh, sehingga minumannya bertekstur ringan. Beras hitam pada beras hitam telah digiling sehingga saat diseduh akan menjadi minuman yang relatif kental, apalagi jika disajikan dengan cara direbus dahulu.

Mana yang lebih nikmat? Silakan Anda coba saja. Memang istilah genmaicha atau hyeonmi cha mungkin terdengar lebih keren. Tapi mungkin Anda pernah tahu juga, bahwa orang jepang atau orang korea sangat bangga dengan produk lokalnya. Tak peduli nama, rasa, atau bahannya, apapun itu asal produksi dalam negeri, mereka tunjukkan kebanggaan itu dengan rutin mengkonsumsinya. Kami pernah bertemu dengan orang korea yang menawarkan teh daun mulberry dari pertanian sutera kecil miliknya. Yang rasanya, ya, tidak terlalu istimewa. Khasiatnya pun, kurang lebih sama dengan herbal standar kita seperti sereh atau kayu manis. Tetapi ekspresinya dalam menawarkan dan menikmati minuman itu sungguh luar biasa. Dan mereka bukan sedang menyombongkan diri. Betul-betul kebanggaan tanpa kesombongan, sehingga memang setiap hari mereka minum penuh penghormatan, tanpa bosan. Apalagi jika menawarkan legenda semacam ginseng yang dibuat minuman.

Coba bandingkan dengan tradisi minum teh kita yang terkesan asal-asalan dan seadanya. Padahal kebun teh kita menghasilkan teh berkualitas dunia yang dihargai tinggi di pasaran dunia. Ada hal lucu yang pernah kami alami yaitu ketika menyajikan teh hitam kualitas bagus kepada masyarakat awam, malah dibilang aneh, tidak biasa, dan kurang enak. Padahal teh hitam itu yang dibuat secara baik dan hati-hati. Setelah ditelaah, ternyata karena teh hitam itu tidak dicampur dengan melati! Jadi rupanya teh yang umum dikenal masyarakat Indonesia adalah rasa melatinya. Tanpa melati maka bukan teh katanya. Dan kasus ini rupanya sudah dipahami oleh pengusaha-pengusaha teh di Indonesia.

Tidak masalah sebetulnya apakah dicampur dengan melati atau sereh atau beras hitam. Tetapi yang menggelitik adalah pemahaman dan penghayatan kita akan hal-hel sederhana yang ada di sekitar kita. Tentang kebanggaan kita kepada diri sendiri, dan apa yang kita hasilkan sendiri. Begitu silaunya dengan segala yang datang dari luar. Sehingga banyak guyonan bahwa barang yang sama jika dilabeli dengan bahasa inggris maka harganya naik berlipat-lipat. Sebuah introspeksi yang seharusnya kita jalankan betul-betul, agar generasi penerus nanti bisa menjadi orang-orang yang kuat, bangga berdiri di atas kaki sendiri. Bukan bangsa pembebek bermental inferior yang rela membayar mahal untuk sampah berbungkus sutera dari negeri seberang.

 

Mari bergerak dari sekarang. Perhatikan sekitar kita dan pilihlah dengan baik apa yang kita makan, kita minum, kita kenakan, dan kita belanjakan! Mari dukung sesama saudara! Hidup petani lokal!