Celoteh Petani tentang Beras Hitam

Kalau urusan menanam, saya ahlinya.

Tapi jangankan menanam, dititipi saja saya tidak berani.” sahut seorang petani sepuh yang tinggal di daerah Kroya, Indramayu, ketika ditanya mengenai penanaman beras hitam.

Beras hitam memang masih merupakan legenda yang terlarang di sejumlah tempat, meskipun hanya terbatas pada kalangan yang sudah berumur dan kebudayaan tertentu. Berikut saya sajikan hasil hasil keliling dan sowan saya ke sentra-sentra beras hitam di negeri yang indah permai ini.

Di Indramayu yang dahulu daerah kekuasaan kesultanan Cirebon, para sesepuh masih memegang tradisi yang melarang rakyat jelata mengkonsumsi beras hitam. Beras hitam adalah pamali, makanan khusus kaum ningrat, tidak layak bagi rakyat jelata. Bahkan di Keraton Jogjakarta, kebiasaan mengkonsumsi beras hitam masih dilakukan hingga saat ini, tentunya terbatas bagi petinggi abdi dalem dan keluarga Sultan. Saking kerasnya pamali tersebut, sampai dianggap membawa kesialan bagi rakyat jelata yang berani (bahkan hanya) memegangnya. Hingga kini, Sultan Cirebon masih mengkonsumsi olahan beras hitam dalam kesehariannya.

“Kalau mau beli berasnya, saya ada, tapi cuma boleh 5 kilo. Kalau mau benih, saya ndak berani. Bisa dipenjara saya kalau ketahuan.” ucap Djamasto, petani beras hitam yang menyuplai kebutuhan beras hitam Keraton Jogjakarta. Beliau adalah petani kelas dunia yang sudah sering berkeliling dunia, dan merupakan petani yang dekat dengan kalangan keraton. Tinggal di Sleman, lahannya subur dan dikelilingi oleh lahan organik. Beliau juga mempromosikan pertanian organik di sekitar kediamannya. Mengajak petani-petani sekitar untuk kembali kepada alam. “Beras hitam itu sebenarnya ndak repot.”

Jelasnya tentang perawatan beras hitam. “Tidak perlu pupuk, berarti hemat kan? Pernah ada petani yang naburi urea. Malah ga jadi itu padi. Mungkin tumbuhnya terlalu cepat. Masa vegetatif yang harusnya 3 bulan jadi lebih  cepat. Memang proses pengisian bulirnya harus perlahan.” Ketika ditanya tentang pestisida,beliau mengatakan bahwa padi ini sangat tahan terhadap hama. “Hama pasti ada, tapi ya cuma segitu-gitunya aja. Tidak sampai ambang ekonomi.”

Saya sendiri salut, beliau mengerti betul konsep proteksi tanaman, yakni ambang ekonomi. Dimana hampir semua petani zaman sekarang tidak lagi menggunakan “ambang ekonomi” untuk aplikasi pestisida. Maksud ambang ekonomi adalah batas dimana serangan hama dihitung dapat merugikan secara ekonomis. Yang ada sekarang adalah ambang psikologis. Alias, kalau ada hama, langsung semprot. Padahal praktik seperti itu sangat berbahaya. Dan merugikan, baik kantong, apalagi lingkungan.

“Yang dikerjakan ya paling nungguin saja.” Imbuhnya lagi. “Pernah ada petani yan nanam beras hitam, tapi ditinggal. Males ngecek lahan. Akhirnya ya, walaupun hamanya sedikit, tapi habis sama burung.” kisahnya. “Kata orang dulu sih, namanya sawah, itu subur kalau sering diinjak orang. Ya maksudnya ga lain, sering didatangi, diperhatikan, dirawat.”

“Saya pernah dengar tentang beras hitam.” Ujar Warsiyah. Petani fenomenal yang hanya lulusan SD ini sudah keliling dunia karena kemampuan bertani dan berorganisasinya. ” Saya kenal dengan Pak Djamasto yang petaninya keraton Jogja. Tapi waktu ketemu dia tidak membawa beras hitamnya.” Imbuh petani yang mengoleksi ratusan varietas beras asli nusantara ini. “Saya pernah dengan legenda beras hitam yang benar-benar hitam sampai ke dalam. Jadi tidak cuma kulit arinya, tapi bagian patinya juga hitam.” Saya sendiri sungguh terpana. Adakah legenda itu? Tak terbayangkan khasiatnya.

Sedangkan cerita Bapak Puji, petani beras hitam dari Kepanjen, Malang, sedikit berbeda. Kawan saya yang mantan pegawai perusahaan pertambangan ini justru tak pernah terpikir untuk menjadi petani. Hanya karena hidupnya pernah terselamatkan oleh beras hitam, beliau memutuskan untuk menyebarkan legenda ini seluas-luasnya. Agar semua orang sehat dan bahagia katanya. Beras hitam yang dikembangkannya berasal dari Tana Toraja. Beras adat yang eksklusif dikonsumsi tetua adat pada ritual tertentu saja. Beras hitam yang beliau produksi sudah tersebar cukup luas di daerah Kepanjen dan Malang. Meskipun latar belakangnya bukan pertanian, namun semangatnya layak diacungi jempol. Tidak kurang dari 5 desa telah dirangkulnya dalam sebuah kelompok tani padi hitam.

Lain lagi dengan tuturan petani beras hitam di Cibeusi, Subang. Di daerah ini, beras hitam yang sering disebut beras gadog ini tidak ditanam dengan organik sepenuhnya.

“Bisa aja A’ kalau mau organik. Tapi tumbuhnya lama. Ga untung.” tukas petani muda yang saya temui di desa indah yang terletak di belakang lokasi wisata Ciater tersebut. “Pupuknya cuma urea aja kok, itu juga cuma separo padi biasa. Pas pertama mau nanam aja. Kalau ga dipupuk, batangnya kurang kuat. Suka rubuh.” ungkapnya lebih jelas. “Kalau pestisida sih ga perlu. Padi ini kuat. Hamanya ga ngaruh.”

Kemudian beliau bercerita tentang revolusi hijau di masa Presiden Soeharto. “Dulu sih disini semua organik A’. Mana ada sih urea, TS atau lainnya. Pas jaman Pak Harto itu kan dibagi-bagi gratis urea. Petani mana mau. Ga terbiasa. Ga berani. Paling disebar dipinggir-pinggir pematang aja.” kisahnya yang sepertinya didapat dari orang tuanya. “Tapi sekarang, semuanya pakai A’. Rugi kalau ga dipupuk.”

Memang dari segi rasa, aroma, dan khasiat, beras gadog ini tidak sama dengan beras-beras warisan keraton. Beras yang sering disuplai untuk warung-warung di daerah Bandung seperti Punclut dan Dago Atas ini tidak terlalu wangi. Bulirnya lebih bulat, dan hitamnya agak kusam. Khasiatnya kurang terasa, meskipun ini hanya subjektif dari pengalaman saya pribadi.

Sekali waktu saya juga menyempatkan bertandang ke Uak salah satu kawan saya. Beliau sudah turun-temurun menanam beras hitam di daerah kaki gunung Slamet, Purwokerto. Di daerah ini, pamali beras hitam sepertinya tidak berlaku. Rakyat biasa bebas menanam dan mengkonsumsinya. Entah bagaimana kisah para pendahulu mereka. Memang keluarga kawan saya di daerah adalah penghuni utama. Artinya dalam satu desa, hampir 80% penghuninya adalah satu keturunan atau saling bersaudara.

“Disini semuanya alami Mas.” ungkap sang Uak. “Petani di bawah situ baru kemarin nyoba pake urea. Kalau obat mah, boro-boro. Pupuk aja baru nyoba-nyoba sekarang ini.” Batin saya, ini desa segini tertinggalnya. Sampai luput dari gerakan revolusi hijau Pak Harto. Hehe. [Sochi]

4 Comments

  1. Kami ingin belajar bertani beras hitam. Mohon informasi no telp P Puji, pelopor petani beras hitam dari Kepanjen Malang. Mohon info juga kalau ada petani beras hitam di daerah banyuwangi atau jember yg bisa kami temui .

  2. Mohon informasi no telp P Puji, pelopor petani beras hitam dari Kepanjen Malang

    • silakan hubungi kami via sms/telp/wa ya Pak ke nomor 08562081026

  3. gimana caranya mendapatkan benih padi hitam yg asli…..sya akan coba dgn pupuk npk organik bambu kuning cap bambu kuning produksi ksu karya bangsa. yg kami produksi sendiri..

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>