Beras Pelangi Petani Organik Lulusan SD

Saya tak banyak berharap ketika bertandang ke kediaman Pak Warsiyah. Seorang petani beras. Petani asli Indramayu ini memang terkenal sebagai penangkar padi. Tapi saya cuma ingin belajar. Saya kira semua petani pasti punya keahlian. Saat itu saya sedang berusaha mengumpulkan pengetahuan tentang kearifan lokal. Pemahaman tentang alam yang sudah mulai memudar oleh derasnya arus teknologi dikotomis masa kini.

Walaupun lulusan SD, tapi sudah keliling dunia karena keahlian bertaninya. Sebagai penduduk asli Desa Kalensari, Widasari, Indramayu ini, beliau cukup fenomenal. Sudah lumrah kalau guru besar atau professor bertandang ke rumahnya untuk berdiskusi. Tidak hanya dari universitas di negeri ini, tetapi juga dari luar negeri. Mahasiswa yang mengadakan penelitian juga kerap berkunjung, bahkan menginap. Saya pun ditawarinya menginap. Karena tak banyak waktunya di rumah. Pekan berikutnya dia akan terbang ke Bamako untuk pertemuan petani tingkat Asia-Afrika.

Dari sumber yang saya dapat, disebutkan kalau Bapak yang unik ini punya koleksi lebih dari 100 varietas padi. Ternyata, dari sekian banyak koleksinya, warnanya bermacam-macam. Ada yang merah (sudah biasa), merah muda, kuning, jingga, bahkan merah putih! Beras yang unik ini, separo bulirnya merah, dan separo lagi putih. Benar2 sangat cocok untuk dijadikan simbol kebanggaan Indonesia. .

Tapi ternyata beliau masih taat dengan tradisi. Masih belum berani berurusan dengan the forbidden rice. Meskipun beliau pernah melihatnya. Bahkan menurutnya, ada legenda yang masih sangat jarang diketahui. Bahkan oleh para bangsawan sekalipun. Legenda tentang beras hitam yang benar-benar hitam seluruhnya. Hitam sampai ke dalam. Tidak hanya kulit ari, tapi juga lembaga dan isinya. Kening saya berkerut Adakah beras seperti itu? Sampai isinya juga hitam? Hmm.

Sayang sekali, saya lupa dimana menyimpan foto saya dengan sang petani organik ini. Handphone saya sempat hilang. Nomornya pun hilang bersama HP saya. Tapi setidaknya saya masih ingat jalan menuju kediamannya. Berikut hanya bisa saya tampilkan fotonya di situs resmi Kompas.

Sebelum berpamitan, beliau menunjukkan koleksi tanamannya selain padi. Yang cukup menarik perhatian saya adalah cabe yang wujudnya mirip mawar. Indah. Teman saya diberi satu polibag untuk dirawat. Terimakasih Pak Warsiyah! Mari kita jaga varietas asli nusantara!

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>