Apakah Kakek Buyut Kita Juga Makan Beras Putih?

Mungkin Anda belum sadar kalau leluhur kita ternyata tidak makan beras putih, tadinya. Saya pun kaget setelah bertanya ke nenek saya. Beras putih baru mulai populer pada zaman akhir penjajahan. Sebelumnya, semua orang makan beras berwarna. Umumnya coklat, atau merah. Dan sebagian lain beruntung dapat menikmati beras hitam.

Anda masih ingat apa yang Anda makan tadi pagi atau kemarin ? Saya berani bilang, setidaknya dalam seminggu ini, pasti pernah makan nasi. Eh, kelamaan ya seminggu, hehe. Sehari juga tiga kali makan nasi biasanya. Dan namanya nasi ya, nasi putih kan. Dari ujung dunia sebelah mana juga namanya nasi pasti putih kan. Kalau tidak putih, baru deh dapat embel-embel. Nasi kuning, coklat, merah, uduk, atau hitam.

Entah kenapa, beras putih mendadak digandrungi. Kata nenek saya sih, karena terkesan bersih. Semua yang putih-putih bagus katanya, waktu itu. Terigu putih, gula juga jadi putih. Dan seperti gengsi sosial kalau bisa makan beras putih. Orang kaya deh kalau bisa makan beras putih. Yaah, belum tahu kalau ternyata beras coklat lebih sehat ya. Beras hitam? Jangan tanya deh. Masih terlindung rapat dibalik dinding keraton.

Anda sudah tahu mungkin ya, kalau beras putih dan coklat sebenarnya sama saja. Maksud saya, dari tanaman yang sama. Hanya proses pengupasan kulitnya berbeda. Seperti kacang kulit dengan kacang kupas saja. Mudahnya, beras coklat minus kulit ari sama dengan beras putih. Zaman duu belum ada mesin huller atau sosoh gabah, yang bisa mengupas kulit ari beras. Gabah ditumbuk dengan alu sampai lepas, lalu ditampi sehingga kulit gabahnya terbang kena angin. Sedangkan kulit arinya yang tipis, susah dibuang sehingga dimakan saja.

anatomi beras

anatomi beras

Setelah ditemukan mesin giling padi (sebenarnya salah kaprah bahasa ya, karena kalau digiling seharusnya jadi tepung, lebih tepatnya mesin sosoh atau kupas), mulai lah popularitas beras putih. Karena prosesnya lebih rumit, perlu mesin besar, jadi gengsi kan makan beras putih. Beras mahal nih.

Walaupun, saya pernah baca kalau ada yang menjual beras putih tapi masih mengandung aleuron alias kulit ari. Kalau yang ini saya belum pernah lihat langsung, jadi saya kurang paham, hehe. Bisa jadi kulit arinya transparan ya. Mungkin.

Padahal, kalau kita sadari, kulit arinya itu justru sangat berharga. Gizinya tinggi kan. Sementara di beras putihnya hanya tersisa karbohidrat saja. Coba di zaman itu orang-orang sudah paham hal ini. Bangkrut deh perusahaan yang bikin mesin giling, eh, mesin sosoh padi, hehe. Saya tidak tahu Anda pernah ketemu kakek nenek yang usianya di atas seratus tahun atau tidak. Tapi bagi saya, umur panjang mereka adalah hasil pola makan zaman dulu yang sehat. Makan beras coklat, gula merah, dan banyak sayuran sehat.

Ingin sehat dan panjang umur seperti mereka?

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>